Disebutkan bahwa Nabi Adam a.s
berkata: “Sesungguhnya Allah SWT telah memberikan kepada umat Muhammad
empat kelebihan yang tidak diberikan kepadaku,” katanya. Apa itu?
Pertama, kata Nabi Adam, taubatku
hanya diterima di kota Makkah, sementara taubat umat Muhammad diterima
di sebarang tempat alias di mana saja. Kedua, “Pada mulanya aku
berpakaian, tetapi ketika aku berbuat durhaka kepada-Nya, maka Allah SWT
menjadikan aku telanjang. Sebaliknya dengan umat Muhammad yang berbuat
durhaka dengan telanjang, tetapi Allah tetap memberi mereka pakaian.”
Ketiga, lanjut Nabi Adam, setelah
aku durhaka kepada Allah SWT, maka Dia langsung memisahkan aku dengan
isteriku. Tetapi tidak untuk umat Muhammad. Mereka berbuat durhaka,
sementara Allah SWT tidak memisahkan isteri mereka.
Yang keempat, “Memang benar aku
pernah durhaka kepada Allah di dalam surga dan aku kemudian dikeluarkan
dari surga, sebaliknya umat Muhammad durhaka kepada Allah, tetapi justru
dimasukkan ke dalam surga apabila mereka bertaubat kepada-Nya.”
Lalu, ada kisah lain disabdakan
langsung oleh Rasulullah SAW. Kata Nabi SAW kisah ini terjadi di zaman
Bani Israil. Demikian Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu
Sa’id Al-Khudri, Sa’id bin Malik bin Sinan r.a. Intinya Nabi pernah
bercerita, bahwa pada zaman dahulu, di zaman orang-orang sebelum kalian,
ada seorang laki-laki yang telah membunuh 99 orang.
Dia kemudian galau dan bertanya,
ingin mencari orang yang paling alim di muka bumi, lalu ditunjukkan
kepadanya tentang seorang rahib (pendeta, ahli ibadah). Maka dia
bergegas mendatangi rahib tersebut lalu mengatakan bahwa sesungguhnya
dia telah membunuh 99 jiwa. “Apakah masih ada pintu taubat bagi saya?,”
tanyanya.
Ahli ibadah itu berkata: “Tidak. Tidak ada pintu taubat bagi pembunuh 99 orang.”
Mendengar jawaban rahib ini,
seketika laki-laki itu muntap, marah dan membunuhnya. Maka dia pun
menggenapi korban pembunuhannya menjadi 100 jiwa.
Pembunuh ini kemudian mencari orang
alim lainnya. Lalu ditunjukkanlah kepadanya tentang seorang yang
berilmu. Dia bergegas menemuinya. Maka dia pun mengatakan bahwa
sesungguhnya dia telah membunuh 100 jiwa. “Apakah masih ada pintu taubat
bagi saya?” tanyanya.
Orang alim itu berkata: “Ya. Siapa
yang menghalangi dia dari taubatnya? Pergilah ke daerah ini dan ini.
Karena sesungguhnya di sana ada orang-orang yang senantiasa beribadah
kepada Allah, maka beribadahlah kamu kepada Allah bersama mereka. Dan
jangan kamu kembali ke negerimu, karena negerimu itu adalah negeri yang
buruk, negeri orang jahat.”
Pembunuh itu pun bergegas
melaksanakan perintahnya. Dia berangkat. Akhirnya, ketika tiba di tengah
perjalanan datanglah kematian menjemputnya. Belum sampai tujuan dia
sudah mati. Maka berselisihlah malaikat rahmat dan malaikat azab tentang
dia.
Malaikat rahmat mengatakan: “Dia
sudah datang dalam keadaan bertaubat, menghadap kepada Allah dengan
sepenuh hatinya.” Sementara malaikat azab berkata: “Sesungguhnya dia
belum pernah mengerjakan amalan kebaikan sama sekali. Maka dia juga
belum bertaubat.”
Nah, dalam perselisihan ini,
datanglah seorang malaikat berwujud manusia, lalu dijadikan dia (sebagai
hakim pemutus) di antara mereka berdua. Maka malaikat itu memberikan
solusi. “Ukurlah jarak antara (dia dengan) kedua negeri tersebut. Maka
ke arah negeri mana yang lebih dekat, dialah yang berhak membawanya.”
Lalu keduanya mengukurnya, dan
ternyata mereka dapatkan bahwa orang itu lebih dekat kepada negeri yang
diinginkannya untuk taubat. Maka malaikat rahmat pun segera membawanya,
dan memasukkan sebagai hamba yang bertaubat. Subhanallah!
Terdapat kisah lain. Nabi Muhammad
SAW pernah didatangi Jibril dengan membawa kabar baik untuk umatnya.
Jibril menyampaikan salam Allah kepada Baginda Rasul lalu memberitahu
bahwa Allah akan mengampuni dosa umatnya setahun sebelum dia meninggal
sekiranya dia bertaubat.
Tetapi Baginda Nabi mengatakan
setahun terlalu lama. Bisa saja kesalahan terus terjadi. Nabi SAW minta
Jibril kembali menghadap Allah minta dispensasi. Jibril pun menghadap
Allah SWT.
Ketika berjumpa Nabi Muhammad Jibril
mengabarkan bahwa Allah akan mengampuni dosa umat Muhammad sebulan
sebelum dia meninggal dunia, jika dia bertaubat. Nabi pun mengetahui
kelemahan umatnya dan meminta Jibril menghadap Allah sekali lagi.
Tanpa payah Jibril menghadap lagi.
Kali ketiga berjumpa Nabi, Jibril mengatakan Allah akan menerima taubat
umat Muhammad sehari sebelum meninggal dunia. Sebagai Nabi yang sangat
menyayangi umat, Baginda masih menaruh harapan agar Allah melonggarkan
syarat taubat bagi umatnya. Nabi meminta Jibril menghadap Allah lagi.
Pada kali keempat, Jibril menemui Nabi dan mengatakan Allah bersedia
menerima taubat umatnya selagi nyawanya belum sampai tenggorokan.
***
Alangkah besar karunia dan rahmat
Allah kepada hamba-Nya. Tetapi alangkah banyak manusia yang tidak
mengetahui dan bahkan tidak mensyukuri nikmat tersebut. Bisa dibayangkan
bagaimana seandainya kedhaliman yang dikerjakan anak cucu Adam harus
diselesaikan dengan azab dan siksa di dunia, niscaya tidak akan ada lagi
satu pun makhluk yang melata di atas muka bumi ini. Seandainya murka
Allah lebih dahulu daripada rahmat-Nya, niscaya tidak akan pernah ada
rasul yang diutus, tidak ada kitab suci yang diturunkan, tidak ada ulama
dan orang shalih serta berilmu yang memberi nasihat, peringatan, dan
bimbingan. Bahkan tidak akan ada satu pun makhluk yang melata di muka
bumi ini.
Kerusakan yang terjadi di muka bumi
ini, di daratan maupun di lautan tidak lain adalah akibat ulah manusia.
Sementara kesempatan hidup yang diberikan kepada mereka membuat mereka
lupa, bahkan semakin menambah kedurhakaan.
Banyak pelajaran menarik yang bisa
dipetik.Pertama, ahli ibadah memang tidak sama dengan ahli ilmu.
Lihatlah apa yang disampaikan seorang rahib yang ahli ibadah tentang
taubat itu. Walhasil rahib itu pun ikut menjadi korban pembunuhan. Ini
berbeda dengan orang ahli ilmu, ketika menyarankan agar laki-laki itu
berhijrah demi taubatan nasuha.
Kedua, betapa pentingnya hijrah
menuju kebaikan. Hijrah termasuk salah satu amalan shalih paling utama,
bahkan merupakan sebab keselamatan agama seseorang serta perlindungan
bagi imannya. Jika hijrah itu memang dibalut dengan kemauan keras untuk
berbuat baik.
Hijrah bisa berarti meninggalkan apa
yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya. Maka, orang yang bertaubat dari
kemaksiatan yang telah lalu berarti dia telah berhijrah meninggalkan apa
yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Demi taubat, jika perlu
dilakukan hijrah secara fisik.
“Barangsiapa keluar dari rumahnya
dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian
menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah
tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” (QS: An-Nisa 4 ayat 100)
Ketiga, perlu diingat bahwasanya
lingkungan yang baik dan bergaul dengan orang shalih akan menambah iman
seseorang. Sedangkan segala kerusakan, petaka dan penyimpangan,
tumbuhnya tidak lain karena adanya dukungan termasuk lingkungan. Dengan
demikian, menjadi wajib bagi seseorang untuk membuat lingkungannya
benar, jika tidak lebih baik hijrah. Semoga kita bisa mengambil
pelajaran berharga dari kisah ini. Waallahu’alam bish-shawab. (Mokhammad
Kaiyis berbagai sumber)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar